Sebuah
Pemikiran dan Tanggapan
Oleh:
Dr. Drs. H. Anton Charliyan, MPKN.
Dr. Elis Suryani NS, Dra., MS.
BANDUNG
2014
Bangsa yang maju adalah bangsa yang menghargai
budayanya. Tinggi rendahnya peradaban suatu bangsa pun dapat dilihat dari
tinggalan budayanya, karena setiap suku bangsa memiliki kearifan lokal yang
tersirat lewat tinggalan budaya para pendahulunya. Demikian halnya dengan karuhun ‘nenek moyang’ orang Sunda, yang
menyimpan beragam ide, gagasan, dan pemikiran cemerlangnya. Salah satu
tinggalan budaya masa silam yang saat ini sedang naik daun karena
kekontroversialannya,Situs Gunung Padang.
Keberadaan situs megalitikum Gunung
Padang yang berada di Desa Karya Mukti Kecamatan Campaka Kabupaten Cianjur
bagian selatan tersebut, sungguh sangat menakjubkan, karena memiliki daya tarik
dan keunikan tersendiri. Meski harus menyusuri undakan hamparan batu sebanyak
ratusan undak ‘tahapan’, namun rasa
letih itu sirna seketika, ketika menyaksikan batu-batu tegak lurus/nangtung/berdiri dengan beragam bentuk dan ukuran, termasuk batu-batu yang menyerupai gamelan/waditra, seperti kacapi, saron, panerus, goong, maupun kendang, unik memang.
Sebagian batu yang berserakan di sana pun banyak yang bergambar, seperti
pahatan gambar kujang, telapak kaki harimau, dan pahatan lainnya. Hal ini
mungkin dapat menjadi acuan, berkaitan dengan keberadaan Gunung Padang itu
sendiri.
Situs Gunung Padang bukanlah sebuah tempat yang
berdiri sendiri, tetapi
termasuk ke dalam sebuah sistem tata ruang kosmologis Sunda yang saling memengaruhi dengan
tenaga-tenaga yang bersumber pada tempat-tempat yang ada di sekitarnya,
baik secara arkeologis, geologis, geomorfologis, filologis, antropologis,
sejarah, maupun folklor, yang tidak terlepas dari budaya zaman batu.
Berkaitan dengan budaya ‘batu’, sebagaimana kita ketahui, sebaik-baiknya
batu adalah Hajar Aswad, yakni batu yang turun dari surga, yang wujudnya lebih
putih dari susu. Namun karena dosa
anak-anak Adam, membuat warnanya berubah menjadi hitam (HR Tarmidzi 877). Kabah
(baitullah) pun dibangun dari tumpukan batu. Dalam sebuah riwayat, Nabi Ibrahim
berkata kepada Nabi Ismail: “Bawakan aku batu yang baik kepadaku untuk aku
letakkan di satu sudut supaya ia menjadi tanda kepada manusia. Sesungguhnya
Allah memerintahkan aku untuk membangun sebuah rumah di sini”, sambil menunjuk
kepada gundukan tanah yang agak tinggi di sekitarnya.
Ibrahim meninggikan fondasi Baitullah, dan tempat berpijaknya dikenal
sebagai Maqom Ibrahim, berfungsi sebagai ‘tanda’ dan sebagai tempat untuk
shalat (HR Ibnu Umar). Andai ditelusuri lebih mendalam. Tampaknya ada
keterkaitan yang tidak terpisahkan antara Gunung Padang dengan budaya
‘kenabian’.
Ditengarai,
konon di puncak Gunung Padang terdapat batu menhir yang berdiri tegak
tegak/berdiri (batu satangtung), yang dikelilingi oleh batu-batu lainnya yang
sama-sama berdiri. Berdasarkan naskah Sunda buhun
‘kuno’, hal itu menandakan bahwa Gunung Padang merupakan tempat suci untuk
beribadah dengan pola seperti Tawaf
(berkeliling), yang secara filologis berdasarkan naskah Bujangga Manik Puru Sangkara,
dan Sanghyang Raga Dewata, Gunung
Padang setiap tahun digunakan sebagai tempat berkumpul para Tetua Adat,
sebagaimana kewajiban berhaji setiap tahun dalam budaya kenabian. Menurut folklor
yang berkembang di sana, di sekelilingnya ada air sungai sebagai tempat
bersuci. Persis seperti yang terdapat di lokasi Sumur Zamzam, yang ada di Kota Makah. Di bagian bawah bangunan ada chamber ‘lorong gua’, yang pintu keluar
masuknya dari arah timur dan barat, sebagaimana pintu Baitullah yang dibuat oleh Nabi Ibrahim (HR
Buchari/Aisyah-Multafaqun’Alaih 19).
Menurut riwayat, diceritakan bahwa Nabi Sys membangun Kabah dengan batu
dan tanah (Al Kamil Fii At Tarikh juz 1 Hlm 17). Maqam Nabi Ibrahim dan Hajar Aswad terletak di sebelah timur
‘Kabah’, sementara itu di sebelah kirinya terdapat pintu masuk.
Kabah dapat diartikan sebagai mata bumi, sumbu bumi, kutub putaran
bumi. Ka ‘ku’ mata kaki. Ummul Quran
induk bagi kota-kota lainnya’. Serangan Abrahah Gubernur Nasrani Yaman, tahun
571 M, dihentikan burung Ababil. Tinggi Kabah 9 hasta, lebar 32 hasta. 22. 31.
20. Pintu timur dan barat. Atap dari kayu
addum. Ada 6 penyangga, kini 27 hasta. Kabah pernah terkena banjir, pada
hari Rabu 19 Syaban 1039 H, hingga roboh.
Beberapa hal berkaitan dengan rumah Allah yang dibuat dari batu, di
antaranya, kejadian 28.22 ‘batu’ yang kudirikan sebagai ‘tugu’ ini akan menjadi
rumah Allah. Kejadian 31.45 Yakub, mengambil sebuah batu dan didirikan menjadi
tugu. Kejadian 35.14, kemudian Yakub mendirikan tugu di tempat itu, yakni Tugu
Batu. Injil Barnabas Asli: Yohanes 1 19.25, datang Nabi setelah zaman Yahya dan
Yesus. Kejadian 49.1.10 dan Mathius 21:
42.43 Nabi tersebut keturunan Ismail. Ulangan 18: 18.20, Nabi di luar Bani
Israel. Yeyasa 41: 1.4 Nabi yang bisa perang (penjelasannya bisa dibuka di internet), inilah sejumlah Rahasia
Al Kitab Injil Barnabas Asli yang perlu anda ketahui). Nabi Musa bertemu Nabi
Hidir di samping Yusya bin Nun di sebuah batu tempat persinggahan (Al Kahfi 64)
dengan membawa ikan dalam sangkar, yang berada
di antara dua lautan. Khidir berkata: ”Sesungguhnya kamu sekali-kali
tidak akan sanggup bersabar bersamaku, maka janganlah kamu menanyakan sesuatu
pun kepada-Ku (Al Kahfi 69).
Lakukanlah shalat di tempat orang pilihan di bawah Mizab (pancuran mas)
Baitullah, rumah yang mula-mula dibangun untuk beribadah yang diberkahi dan
menjadi petunjuk bagi semua manusia (Al Imran 98), dan kami menjadikan Baitullah
tempat berkumpul bagi manusia, ikutilah agama orang tuamu Ibrahim seorang yang
hanif (Al Hajj 78, An Nahl 123), sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu
najis. Maka janganlah mereka mendekati Masjidil Haram.
Sejalan dengan itu, Surat At Taubah 28 menjelaskan: “diharamkan
memberikan keleluasaan kepada orang musyrik untuk masuk tanah ‘haram’ (Imam al
Qurthubi), siapa yang bermaksud di dalamnya melakukan kejahatan niscaya akan
kami rasakan kepadanya siksa yang pedih (Al Hajj 22: 25. Tempat berkumpul bagi
manusia dan aman, Al Baqarah 2. 125. Pada suatu hari nanti ada seseorang yang
berlindung di Baitul Haram, ketika Ia diserbu oleh pasukan yang sangat banyak
(HR. Muslim). Penghancur Kabah adalah seseorang dari Habasyah (Hitam model Arab
Afrika) kecil betisnya. (dzus suwaiqotain). Memakai palu kecil dan alat
pengukurnya. Ia adalah orang yang Ushaila (botak) dan ufaida (bengkok
pergelangan kakinya).
Berkaitan dengan ‘batu’, Surat
Ibrahim ayat (1) dan (5): mengeluarkan manusia dari ‘gelap’ kepada cahaya yang
terang berderang (caang padang
narawangan, galuhna cahyaning ratu. Sementara itu, ayat (4): Mengutus Nabi dengan bahasa
kaumnya, (4) termasuk kalimat-kalimat yang baik adalah kalimat Tauhid yang
menyeru kebajikan (Al Baqarah 127: dan ingatlah ketika Nabi Ibrahim meninggikan
dasar Baitullah bersama Ismail). ‘Saya diperintahkan oleh Allah untuk
meninggikan dasar-dasar Baitullah’ dan Nabi Ibrahim pun memerintahkan Nabi
Ismail mencari batu yang baik untuk diletakkan di Baitullah (HR Ibnu Katsir).
Sebagai perbandingan, bahwa tatacara sembahyang Muslim, sebenarnya sudah
ada dalam Injil, tapi tidak dilakukan oleh pengikut Nabi Isa, Mathius 26.39.
Sujud, ia maju sedikit lalu sujud dan berdoa (sujud dan berjamaah). Markus
14.35. Mazmur 138: 2: Aku sujud ke arah bait-Mu yang kudus (sembahyang
menghadap Baitullah). Mazmur 5 : 8 sujud menyembah ke arah bait-Mu yang kudus.
Yehezkiel 44.4 ke depan Bait suci rumah Allah. Daniel 6.10 berlutut dan
berdoa’a 3 kali sehari. Ezra 10.1 menangis berdoa sambil bersujud. Yosua 5.14
lalu sujudlah Yosua dengan muka ke tanah. Mazmur 95.6, marilah kita sujud
menyembah berlutut di hadapan Tuhan kita. Keluaran 34.8, berlutut ke tanah lalu
sujud.
‘Tabut’ merupakan dua loh batu berisi 10 perintah Allah (Al Baqarah
248). Tabut di dalamnya terdapat ketenangan. Tanda sebagai orang beriman (di
Gunung Sinai), Kubah as Sakrah Batu tempat Nabi Muhammad SAW berpijak saat Isra
Miraj.
Ada beberapa perbandingan antara budaya Sunda
dengan budaya Para Nabi, di antaranya:
1. Situs jejak telapak kaki di batu: Maqom Nabi
Ibrahim dua telapak kaki, juga bekas telapak kaki kiri Rosulullah Nabi Muhammad
SAW, dan bekas injakan di batu ketika Isra Miraj di Masjidil Aqsa. Telapak kaki
di batu ditemukan pada zaman Tarumanagara Batu Jambu Purnawarman, Ciaruteun
Bogor, di Candi Batu Jaya Karawang. Prasasti Kawali Ciamis. Batu Jahim Panjalu.
Di Aceh ditemukan juga dan ukurannya cukup besar, seukuran kolam.
2. Budaya ‘Tabut’ Nabi Musa: Prasasti
ajaran-ajaran Illahi ditulis pada ‘Batu’ (10 firman Allah). Sementara itu, di
Sunda Prasasti Kawali Prasasti Batu Tulis, Prasasti Bekasi, Prasati Sri
Jayabhupati, Pasasti Geger Hanjuang, dan lainnya.
3. Budaya Tugu Batu, Batu bertumpuk sebagai
tempat suci/peribadatan/tempat persembahan Tugu Batu Bethelmen, Baitullah. Di
Sunda batu Yoni, lingga, Gunung Padang, Pasir Ringgit, dll.
4. Budaya Gua sebagai tempat tafakur menyucikan
diri: Gua Hira, Gua tempat Nabi Musa di Bukit Tursina. Di Sunda Pamijahan: Gua
Anteg, Gua Galunggung, dll.
5. Budaya Gunung sebagai tempat suci/tempat
menerima wahyu. Kabuyutan: Gunung Hud (Nabi Muhammad). Gunung Muria (Nabi
Ibrahim). Bukit Tursina (Nabi Musa), Kabuyutan Galunggung (Nabi Nuh), Gunung
Tampomas, Gunung Salak, Gunung Gede, Gunung Padang, dan sebagainya.
Arti ‘Padang’ pada Gunung Padang, bisa
dimaknai luas, lapang, berserah diri, atau cahaya yang terang. Bisa juga
diartikan tempat berkumpul atau tempat bertemu. Andai dimaknai tempat
berlindung mungkin identik dengan arti Padang Masyhar. Arafah, Kabah, dan
Islam, serta Nur Illahiah. Galuhna
cahyaning ratu. Berkaitan dengan budaya ‘batu’ sebagai tempat pertemuan,
ada beberapa jejak-jejak Batu dalam budaya Para Nabi, yakni:
1. Batu ‘Ja’
tempat bertemunya Nabi Musa dan Nabi Hidir Majma Al Bairayn
( Al Hahfi 18: 60 82) yaitu pertemuan dua laut yang ada tempat batu
berlindung (Al Kahfi 63). 1.b. Firman Allah kepada Nabi Musa:’Pergilah Engkau
dan lihatlah ‘BATU’ yang ada di puncak gunung itu, duduklah Engkau di atas batu
itu! Kemudian aku akan menurunkan balatentaraku ke padamu (HR. Sina Ibnu Abbas
Ra).
2. Jabal Rahma: tempat
bertemunya kembali Nabi Adam dengan Siti Hawa, dan tempat turunnya wahyu terakhir Nabi
Muhammad. Nabi Muhammad SAW tidak menganjurkan naik ke gunung,
mengusap/mengambil batu dan tanahnya. Atau Shalat di atasnya tetapi yang
dianjurkan adalah mengikuti sunahnya.
3. Gunung: a). Bukit Thursina Gn
Sinai, kamu sekali-kali tidak akan sanggup melihatku, tetapi lihatlah ke bukit
(Bukit Thursina), gunung pun hancur (Al Araf 143) kemudian turunlah Nabi Isa
dan para sahabatnya dari Gunung Thuur, setelah berdoa (HR Muslim). Tempat Nabi
Musa menerima Wahyu berupa ‘Tabut’, Sepuluh perintah Allah. b) Gunung Uhud
berarti Ahad (Al Ikhlas) nama tersebut sebagai pemberian Allah. Tempat Nabi
Muhammad menerima Wahyu pertama di Gua Hira.. Uhud adalah salah satu tiang dari
tiang-tiang Surga (HR Sahil bin Ssad). Di Sunda ‘Gunung’ sebagai Kabuyutan (tempat suci), seperti:
Kabuyutan Galunggung, Gunung Gede, Gunung Salak, Gunung Sawal, Gunung Padang,
Gunung Sadahurip, Gunung Tampomas, dan lain-lain.
Allah berkata kepada Musa: “Aku akan
menampakan diri. Bertajaalilah pada Gunung itu (Gn. Sinai). QS Al Araaf 7; 143
Luh Mahfudz; tulisan pada batu (QS Al Hijr 15: 9) Zabur: firman Allah yang
ditulis dalam lembaran Batu ad Zabur. Maka semua kitab terdahulu yang ditulis
dalam lembaran batu dinamai Zabuur (Za
Ba Ra: Batu, Zabur: Kekuatan – QS 21: 105). Zabur diberikan kepada Nabi Daud
dan Nabi Sulaiman.
Maqom Nabi Ibrahim yaitu Batu tempat ia
berdiri berbentuk telapak kaki. (HR Said bin Jubair). Jadikanlah sebagian dari
Makam Ibrahim itu tempat Shalat (Al Baqarah 125). Menurut Sheikh Moh. Tahir Al
Kurdi Nabi Muhammad SAW pun memiliki cetakan bekas kedua belah telapak kakinya.
Berdasarkan ukurannya, panjang 22 cm, lebar 11 cm diperkirakan sangat mirip
dengan telapak kaki Nabi Ibrahim. Cetakan tersebut sekarang berada di Museum
Topkapi Turki. Ada lagi situs telapak kaki yang dipercayai bekas nabi Adam
yaitu Gunung Adam Peak di Srilangka tercetak di atas batu safir, tapi ukurannya
sangat besar, panjangnya 180 cm. Ada lagi yang mengatakan bahwa Nabi Adam turun
di Suatra. Yaitu menurut Syaikh Yusuf Tajul Khalwati, yakni di Negara Hindi di
Gunung Serendib dalam bahasa Sansekerta Serendib berarti Swarna dwipa atau
Sumatra berupa Pegunungan Bukit Barisan (bagian dari Sundaland), karena ada
pendapat juga bahwa yang dimaksud Nabi Adam diturunkan di Negeri Hindi
maksudnya adalah Hindia atau India Asia Timur (Indonesia).
Gunung Serendib juga bisa diartikan
Sailon, Ceylon, Srilangka. Makanya jejaknya ada juga di Srilangka. Jejak
tekapak kaki di Sumatra ada di Serambi Makah, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh
Selatan, yang ukurannya, panjang 95 cm, lebar 40 cm. Lebih dikenal sebagai Tapa
Tuan (Tapak Tuan). Jejak kaki raksasa juga ditemukan antara lain di Desa
Warnasari Sukabumi. Majene Sulawesi Selatan. Di Desa Kayangan Lombok Utara,
dengan ukuran 2x1 meter. Ada juga di
Afrika Selatan di kota Mpaluzi, berukuran 121 cm. Jejak Sunda berukuran raksasa.
Sementara yang ukuran dan modelnya persis sama dengan jejak kaki Rasulullah dan
Nabi Ibrahim hanya ada di Tatar Sunda (yang artinya cahaya keindahan, baik).
Untuk jejak kaki raksasa Nabi Adam masih sumir
dan diragukan obyektivitasnya.. Lebih mengarah kepada legenda dan manusia
raksasa. Sementara telapak kaki jejak nabi yang ada di Tatar Sunda, tidak
diragukan lagi obyektivitasnya. Mengapa jejak Nabi yang ada dengan jejak yang
ada di Tatar Sunda ‘sama’? Apakah ini sebagai petanda pula bahwa sesungguhnya
orang Sunda adalah orang-orang terpilih pewaris jejak nabi, seperti halnya Galunggung
Ngadeg Tumenggung (tempatnya ngadeg ‘berdiri’, Para Nabi & para
leluhur), Sukapura Ngadaun Ngora (penerusnya Sukapura adalah
pewarisnya).
Para pewaris Nabi lebih dikenal sebagai Ihya Ulumudin (An Noor 24 : 55),
Allah menjanjikan orang-orang yang beriman dan beramal shaleh dari kalanganmu,
dan menjadikan Khalifah (tumenggung) yang memegang kuasa pemerintahan di
bumi. Pewaris Nabi adalah pilihan Allah kepada Ulama-ulama, orang-orang bijak,
berpengetahuan berupa ‘Nur’ Muhammad (sebagai cahaya illahiah yang Maha Agung). Ada sebuah doa sebagaimana tersurat, “Ya
Alloh aku tempatkan putraku dan anak keturunannya di dekat rumahmu yang
dihormati di lembah yang sunyi dari tanaman dan manusia agar mereka mendirikan
shalat dan beribadat kepada-Mu, jadikanlah hati sebagian manusia cenderung
kepada mereka dan berilah mereka rejeki dari buah-buahan. Mudah-mudahan mereka
bersyukur (QS Ibrahim 37).
Batu ASH SAHKHRAH
Mesjid, rumah Allah tempat bersujud.
Batu tempat berpijak ketika Nabi Isa Miraj dinamai Batu ASH SAHKHRAH. Saat ini,
batu tersebut berada di masjid Al Aqsa. Di batu tersebut pernah digunakan Nabi
Ibrahim, Nabi Daud, dan Nabi Sulaeman berdoa. Di Mesjid Al Aqsa pun terowongannya
masuk dari pintu timur dan barat.
Bagaimana dengan sejarah dan
keberadaan Situs megalitikum Gunung Padang itu sendiri? Secara filologis Gunung
Padang berkelindan erat dengan Naskah Puru
Sangkara, Carita Ratu Pakuan, Sanghyang Siksakandang Karesian, Carita Waruga
Guru, Sanghyang Raga Dewata, Bujangga Manik, juga Kabuyutan Batu Nangtung Pasir
Ringgit Selareuma Sumedang
Larang, yang pada zaman bihari ‘masa
silam’ konon dikeramatkan
dan disakralkan sebagai tempat menempa
jiwa untuk menyiapkan pemuka-pemuka agama yang handal
dan terlatih.
Gunung Padang ditengarai terbagi menjadi lima undak/teras atau lima tingkatan
Gunung Padang ditengarai terbagi
menjadi lima undak/teras atau lima tingkatan, menurut juru kunci di sana,
sebagian besar sudut batu-batunya juga kebanyakan bersudut lima. Posisi Gunung
Padang itu sendiri berada di tengah, serta dikelilingi oleh lima
gunung, yakni di sebelah barat Gunung Karuhun, sebelah selatan Gunung Emped, di
sebelah tenggara Gunung Malati, sebelah
timur Gunung Pasir Malang, serta sebelah utara/barat laut Gunung Batu. Siloka ‘simbol’ lima undakan tersebut, sesuai dengan Rukun
Islam dan kewajiban Shalat.
Orientasi Gunung Padang menghadap ke sebelah tenggara barat laut, yang
juga meliputi lima buah gunung, yang terdiri atas: Gunung Batu, Gunung Pasir
Pogor, Gunung Kendeng, Gunung Gede, serta Gunung Pangrango. Gunung Padang berorientasi kepada Gunung Gede, karena
Gunung Gede dianggap ‘kiblat’ atau pancer
’pusat’ para leluhur/gegeden
‘pejabat’ pada masa lampau. Gunung
Padang secara geografis
segaris lurus mengarah dan tembus ke Gunung Gede.
Mengacu kepada pembagian tatanan ruang pada zaman bihari ‘silam’, proses penciptaan alam dalam naskah meliputi buwana (jagat raya), pretiwi (bumi),
sarira (diri sendiri), dan para dewa
pengatur jagat. Naskah kuna lainnya, Kropak 422 menyebutkan bahwa alam
semesta terbagi dalam tiga dunia, yaitu sakala (dunia nyata), niskala
(dunia gaib), dan jatiniskala (kemahagaiban sejati).
Hal ini pun sejalan dengan apa yang digambarkan naskah Sanghyang Raga Dewata yang menjelaskan penciptaan alam dunia.
Naskah ini pun menjelaskan tentang keesaan Tuhan, dengan istilah Sanghyang Tunggal ‘Tuhan Yang Maha
Esa/Tuhan Yang Maha Tunggal.
Naskah Sanghyang Siksakandang Karesian
Kesakralan Gunung Padang, diungkap lewat Naskah Sanghyang
Siksakandang Karesian, yang memaparkan bahwa kahyangan penghuni para dewa lokapala (pelindung dunia),
disesuaikan dengan kedudukan mata angin dengan warna masing-masing yang disebut
Sanghiyang Wuku Lima di Bumi, yaitu Isora
bertempat di kahyangan timur (Purwa), putih warnanya. Daksina ‘selatan’, tempat tinggal Hyang Brahma, merah warnanya. Pasima ‘barat’ tempat tinggal Hyang Mahadewa, kuning warnanya. Utara yaitu ‘utara’ tempat tinggal Hyang Wisnu, hitam warnanya. Madya ‘tengah’, tempat Hyang Siwa, aneka macam warnanya.
Sementara itu, Carita Pantun Eyang Resi Handeula Wangi memuat kosmologi Sunda yang membagi
dunia ke dalam tiga
bagian (triumvirate), yaitu Buana Nyungcung ‘dunia roh’, Buana Panca Tengah ‘dunia manusia’, dan Buana Larang. Mandala hanya dikenal di Buana Nyungcung.
Maka dari itu, jika dikaitkan dengan tatanan Gunung Padang yang terdiri atas
lima undak/lima tingkatan, mungkin lebih cocok jika dihubungkan dengan
pembagian tatanan ruang sebagaimana terungkap dalam Sanghyang Siksa Kandang Karesian, yang terdiri atas lima arah angin (Sanghiyang Wuku Lima di Bumi).
Gunung Padang sebagai gunung yang
disakralkan dan dapat dikatakan sebagai kabuyutan, keberadaannya sama
dengan Gunung Galunggung, yang dapat diartikan sebagai galuh nur agung,
tempat cahaya Illahi Yang Maha Agung. Makanya Galunggung maupun Gunung Padang
menjadi kabuyutan yang harus dijaga. Hal itu pun beralasan karena,
Galunggung merupakan sebab, yang akan melahirkan dan menjadikan para Tumenggung
atau Khalifah sebagai manusia pilihan pewaris para Nabi. Makanya ada amanat
khusus, dari Galunggung bagi para generasi Sunda jika ingin menjadi Pewaris
Nabi. Sesuai dengan Imam
Ghazali: setelah zaman para Sahabat sebagai pewaris Nabi, yang akan menjadi
pewaris sebagai pemimpin adalah para ‘tabi in, wali-wali, yang menjadi Guru
Mursyid, yang senantiasa mengikuti sunahnya (ikuti Patikrama nu nyusuk di Parit
Galunggung).
Prasasti Geger Hanjuang
Naskah Amanat Galunggung berkelindan
dengan Prasasti Geger Hanjuang,
karena isinya ada kesesuaian berkenaan dengan pembuatan parit (pertahanan) Rumantak pada masa pemerintahan Batari
Hiyang Janapati yang bertahta di Galunggung. Sebutan ‘Batari Hiyang’ digunakan
untuk menyebut seseorang yang tinggi martabatnya di bidang keagamaan. Selain
seorang wanita luar biasa, seorang Ratu Galunggung yang cerdas dan perkasa, Ia
juga seorang ‘batari’ dan panglima perang yang handal, pembuat parit/benteng
pertahanan Rumantak. Kebatarian yang dimilikinya berkenaan
dengan kedudukannya sebagai guru agama yang digelari Sang Sadu Jati bagi rakyat dan raja-raja
keturunannya, sehingga ajarannya dijadikan ajaran resmi pada masanya di
Galunggung.
Benar atau tidaknya pandangan yang
disajikan, bergantung kepada persepsi pembaca, dari sudut pandang mana
menilainya. Tentu saja pandangan dan pemikiran penulis ini akan berbeda dengan
persepsi lainnya. Penulis dan penggagas tulisan ini, yakni Brigjen Pol. Dr. H.
Anton Charliyan, MPKN, sebagai pemerhati budaya, berharap agar Gunung Padang
sebagai tinggalan budaya karuhun orang Sunda yang maha megah, sepatutnya diraksa, diriksa, tur dimumulé ‘dijaga,
dipelihara, dan dilestarikan’, bahkan harus diteliti dan dikaji agar dapat
diungkap kearifan lokal yang ada di dalamnya. Tiada lain, menambah cakrawala
demi kemajuan ilmu pengetahuan, yang berguna bagi kehidupan manusia se dunia,
sebagaimana terungkap dalam naskah-naskah Sunda buhun ‘kuno’ bahwa Raja
Sunda ‘jaman bihari ‘masa silam’, harus mampu ngretakeun janma réya, dan ngretakeun
alam dunya ‘memerdayakan dan menyejahterakan banyak orang serta alam dunia.
Semoga!
Penulis:
Brigjen Pol. Dr. H. Anton Charliyan, MPKN
Dr. Elis Suryani NS, Dra.,
MS.
Dosen
dan Peneliti Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Padjadjaran
Acuan:
Atja, R.
& Saleh Danasasmita. 1981. Sanghyang
Siksakanda Ng Karesian. (Naskah Sunda Kuno Tahun 1518 Masehi). Bandung:
Proyek Pengembangan Permuseuman Jawa Barat.
Charliyan, Anton. 2011. Kujang: Bentuk, Makna, dan Fungsinya dalam Kehidupan Masyarakat Sunda. Bandung:
CV. Dananjaya.
Charliyan,
Anton. 2013. Master Ledership. Jakarta:
Solusi Publishing.
Charliyan,
Anton. 2014. Jejak Budaya Sunda dan Para Nabi. (Wawancara & Diskusi
Ekslusif). Bandung, 1-2 Maret 2014).
Suryani NS, Elis.
dkk. 2009. Kedudukan Lahan Penambangan
Batu Kampung Selareuma Pasir Reungit Kelurahan Pasanggrahan Kecamatan Sumedang
Selatan Kabupaten Sumedang dalam Konstelasi Kabuyutan Sumedanglarang. Kabuyutan Batu Bangtung Pasir Ringgit
Selareuma Sumedang
Suryani NS, Elis.“Gunung Padang Kian Menantgang”. Artikel di Pikiran Rakyat, 2011.
Suryani NS, Elis.“Gunung Padang, Gunung Nu Dipigandrung”. Artikel di Pikiran Rakyat,
2012.
Suryani NS, Elis. 2011. Ragam
Pesona Budaya Sunda. Bogor: Ghalia Indonesia.
Suryani NS, Elis.“Kujang: Gagaman
dan Pakarang”. Artikel di Pikiran Rakyat, 14 Agustus 2012.
Suryani NS, Elis. 2012. Panorama Sunda Buhun Masa Lampau. Garut: Pasulukan Loka Gandasasmita.
Suryani NS, Elis. 2013. Maher Budaya Sunda. Bandung: Alqaprint.




