Rabu, 27 Mei 2015

Keselarasan antara Budaya Sunda dengan Budaya Kenabian

Sebuah Pemikiran dan Tanggapan


Oleh:
Dr. Drs. H. Anton Charliyan, MPKN.
Dr. Elis Suryani NS, Dra., MS.











BANDUNG
2014



Bangsa yang maju adalah bangsa yang menghargai budayanya. Tinggi rendahnya peradaban suatu bangsa pun dapat dilihat dari tinggalan budayanya, karena setiap suku bangsa memiliki kearifan lokal yang tersirat lewat tinggalan budaya para pendahulunya. Demikian halnya dengan karuhun ‘nenek moyang’ orang Sunda, yang menyimpan beragam ide, gagasan, dan pemikiran cemerlangnya. Salah satu tinggalan budaya masa silam yang saat ini sedang naik daun karena kekontroversialannya,Situs Gunung Padang. 
           Keberadaan situs megalitikum Gunung Padang yang berada di Desa Karya Mukti Kecamatan Campaka Kabupaten Cianjur bagian selatan tersebut, sungguh sangat menakjubkan, karena memiliki daya tarik dan keunikan tersendiri. Meski harus menyusuri undakan hamparan batu sebanyak ratusan undak ‘tahapan’, namun rasa letih itu sirna seketika, ketika menyaksikan batu-batu tegak lurus/nangtung/berdiri dengan  beragam bentuk dan  ukuran, termasuk batu-batu yang menyerupai gamelan/waditra, seperti kacapi, saron,  panerus, goong,  maupun  kendang, unik memang. Sebagian batu yang berserakan di sana pun banyak yang bergambar, seperti pahatan gambar kujang, telapak kaki harimau, dan pahatan lainnya. Hal ini mungkin dapat menjadi acuan, berkaitan dengan keberadaan Gunung Padang itu sendiri. 
           Situs Gunung Padang bukanlah sebuah tempat yang berdiri sendiri, tetapi termasuk ke dalam sebuah sistem tata ruang kosmologis Sunda yang saling memengaruhi dengan tenaga-tenaga yang bersumber pada tempat-tempat yang ada di sekitarnya, baik secara arkeologis, geologis, geomorfologis, filologis, antropologis, sejarah, maupun folklor, yang tidak terlepas dari budaya zaman batu.


           Berkaitan dengan budaya ‘batu’, sebagaimana kita ketahui, sebaik-baiknya batu adalah Hajar Aswad, yakni batu yang turun dari surga, yang wujudnya lebih putih dari susu. Namun  karena dosa anak-anak Adam, membuat warnanya berubah menjadi hitam (HR Tarmidzi 877). Kabah (baitullah) pun dibangun dari tumpukan batu. Dalam sebuah riwayat, Nabi Ibrahim berkata kepada Nabi Ismail: “Bawakan aku batu yang baik kepadaku untuk aku letakkan di satu sudut supaya ia menjadi tanda kepada manusia. Sesungguhnya Allah memerintahkan aku untuk membangun sebuah rumah di sini”, sambil menunjuk kepada gundukan tanah yang agak tinggi di sekitarnya.
           Ibrahim meninggikan fondasi Baitullah, dan tempat berpijaknya dikenal sebagai Maqom Ibrahim, berfungsi sebagai ‘tanda’ dan sebagai tempat untuk shalat (HR Ibnu Umar). Andai ditelusuri lebih mendalam. Tampaknya ada keterkaitan yang tidak terpisahkan antara Gunung Padang dengan budaya ‘kenabian’.

           Ditengarai, konon di puncak Gunung Padang terdapat batu menhir yang berdiri tegak tegak/berdiri (batu satangtung), yang dikelilingi oleh batu-batu lainnya yang sama-sama berdiri. Berdasarkan naskah Sunda buhun ‘kuno’, hal itu menandakan bahwa Gunung Padang merupakan tempat suci untuk beribadah dengan pola seperti Tawaf (berkeliling), yang secara filologis berdasarkan naskah Bujangga Manik  Puru Sangkara, dan Sanghyang Raga Dewata, Gunung Padang setiap tahun digunakan sebagai tempat berkumpul para Tetua Adat, sebagaimana kewajiban berhaji setiap tahun dalam budaya kenabian. Menurut folklor yang berkembang di sana, di sekelilingnya ada air sungai sebagai tempat bersuci. Persis seperti yang terdapat di lokasi Sumur Zamzam, yang ada di Kota Makah. Di bagian bawah bangunan ada chamber ‘lorong gua’, yang pintu keluar masuknya dari arah timur dan barat, sebagaimana pintu Baitullah yang dibuat oleh Nabi Ibrahim (HR Buchari/Aisyah-Multafaqun’Alaih 19).
            Menurut riwayat, diceritakan bahwa Nabi Sys membangun Kabah dengan batu dan tanah (Al Kamil Fii At Tarikh juz 1 Hlm 17). Maqam Nabi Ibrahim dan Hajar Aswad terletak di sebelah timur ‘Kabah’, sementara itu di sebelah kirinya terdapat pintu masuk.

             Kabah dapat diartikan sebagai mata bumi, sumbu bumi, kutub putaran bumi.  Ka ‘ku’ mata kaki. Ummul Quran induk bagi kota-kota lainnya’. Serangan Abrahah Gubernur Nasrani Yaman, tahun 571 M, dihentikan burung Ababil. Tinggi Kabah 9 hasta, lebar 32 hasta. 22. 31. 20. Pintu timur dan barat. Atap dari kayu  addum. Ada 6 penyangga, kini 27 hasta. Kabah pernah terkena banjir, pada hari Rabu 19 Syaban 1039 H, hingga roboh.
           Beberapa hal berkaitan dengan rumah Allah yang dibuat dari batu, di antaranya, kejadian 28.22 ‘batu’ yang kudirikan sebagai ‘tugu’ ini akan menjadi rumah Allah. Kejadian 31.45 Yakub, mengambil sebuah batu dan didirikan menjadi tugu. Kejadian 35.14, kemudian Yakub mendirikan tugu di tempat itu, yakni Tugu Batu. Injil Barnabas Asli: Yohanes 1 19.25, datang Nabi setelah zaman Yahya dan Yesus.  Kejadian 49.1.10 dan Mathius 21: 42.43 Nabi tersebut keturunan Ismail. Ulangan 18: 18.20, Nabi di luar Bani Israel. Yeyasa 41: 1.4 Nabi yang bisa perang (penjelasannya bisa  dibuka di internet), inilah sejumlah Rahasia Al Kitab Injil Barnabas Asli yang perlu anda ketahui). Nabi Musa bertemu Nabi Hidir di samping Yusya bin Nun di sebuah batu tempat persinggahan (Al Kahfi 64) dengan membawa ikan dalam sangkar, yang berada  di antara dua lautan. Khidir berkata: ”Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup bersabar bersamaku, maka janganlah kamu menanyakan sesuatu pun kepada-Ku (Al Kahfi 69).
             Lakukanlah shalat di tempat orang pilihan di bawah Mizab (pancuran mas) Baitullah, rumah yang mula-mula dibangun untuk beribadah yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia (Al Imran 98), dan kami menjadikan Baitullah tempat berkumpul bagi manusia, ikutilah agama orang tuamu Ibrahim seorang yang hanif (Al Hajj 78, An Nahl 123), sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis. Maka janganlah mereka mendekati Masjidil Haram.
            Sejalan dengan itu, Surat At Taubah 28 menjelaskan: “diharamkan memberikan keleluasaan kepada orang musyrik untuk masuk tanah ‘haram’ (Imam al Qurthubi), siapa yang bermaksud di dalamnya melakukan kejahatan niscaya akan kami rasakan kepadanya siksa yang pedih (Al Hajj 22: 25. Tempat berkumpul bagi manusia dan aman, Al Baqarah 2. 125. Pada suatu hari nanti ada seseorang yang berlindung di Baitul Haram, ketika Ia diserbu oleh pasukan yang sangat banyak (HR. Muslim). Penghancur Kabah adalah seseorang dari Habasyah (Hitam model Arab Afrika) kecil betisnya. (dzus suwaiqotain). Memakai palu kecil dan alat pengukurnya. Ia adalah orang yang Ushaila (botak) dan ufaida (bengkok pergelangan kakinya).
            Berkaitan dengan ‘batu’, Surat Ibrahim ayat (1) dan (5): mengeluarkan manusia dari ‘gelap’ kepada cahaya yang terang berderang (caang padang narawangan, galuhna cahyaning ratu. Sementara itu,  ayat (4): Mengutus Nabi dengan bahasa kaumnya, (4) termasuk kalimat-kalimat yang baik adalah kalimat Tauhid yang menyeru kebajikan (Al Baqarah 127: dan ingatlah ketika Nabi Ibrahim meninggikan dasar Baitullah bersama Ismail). ‘Saya diperintahkan oleh Allah untuk meninggikan dasar-dasar Baitullah’ dan Nabi Ibrahim pun memerintahkan Nabi Ismail mencari batu yang baik untuk diletakkan di Baitullah (HR Ibnu Katsir).
           Sebagai perbandingan, bahwa tatacara sembahyang Muslim, sebenarnya sudah ada dalam Injil, tapi tidak dilakukan oleh pengikut Nabi Isa, Mathius 26.39. Sujud, ia maju sedikit lalu sujud dan berdoa (sujud dan berjamaah). Markus 14.35. Mazmur 138: 2: Aku sujud ke arah bait-Mu yang kudus (sembahyang menghadap Baitullah). Mazmur 5 : 8 sujud menyembah ke arah bait-Mu yang kudus. Yehezkiel 44.4 ke depan Bait suci rumah Allah. Daniel 6.10 berlutut dan berdoa’a 3 kali sehari. Ezra 10.1 menangis berdoa sambil bersujud. Yosua 5.14 lalu sujudlah Yosua dengan muka ke tanah. Mazmur 95.6, marilah kita sujud menyembah berlutut di hadapan Tuhan kita. Keluaran 34.8, berlutut ke tanah lalu sujud.
            ‘Tabut’ merupakan dua loh batu berisi 10 perintah Allah (Al Baqarah 248). Tabut di dalamnya terdapat ketenangan. Tanda sebagai orang beriman (di Gunung Sinai), Kubah as Sakrah Batu tempat Nabi Muhammad SAW berpijak saat Isra Miraj.
Ada beberapa perbandingan antara budaya Sunda dengan budaya Para Nabi, di antaranya:

1.  Situs jejak telapak kaki di batu: Maqom Nabi Ibrahim dua telapak kaki, juga bekas telapak kaki kiri Rosulullah Nabi Muhammad SAW, dan bekas injakan di batu ketika  Isra Miraj di Masjidil Aqsa. Telapak kaki di batu ditemukan pada zaman Tarumanagara Batu Jambu Purnawarman, Ciaruteun Bogor, di Candi Batu Jaya Karawang. Prasasti Kawali Ciamis. Batu Jahim Panjalu. Di Aceh ditemukan juga dan ukurannya cukup besar, seukuran kolam.
2.  Budaya ‘Tabut’ Nabi Musa: Prasasti ajaran-ajaran Illahi ditulis pada ‘Batu’ (10 firman Allah). Sementara itu, di Sunda Prasasti Kawali Prasasti Batu Tulis, Prasasti Bekasi, Prasati Sri Jayabhupati, Pasasti Geger Hanjuang, dan lainnya.
3.  Budaya Tugu Batu, Batu bertumpuk sebagai tempat suci/peribadatan/tempat persembahan Tugu Batu Bethelmen, Baitullah. Di Sunda batu Yoni, lingga, Gunung Padang, Pasir Ringgit, dll.
4.  Budaya Gua sebagai tempat tafakur menyucikan diri: Gua Hira, Gua tempat Nabi Musa di Bukit Tursina. Di Sunda Pamijahan: Gua Anteg, Gua Galunggung, dll.
5.  Budaya Gunung sebagai tempat suci/tempat menerima wahyu. Kabuyutan: Gunung Hud (Nabi Muhammad). Gunung Muria (Nabi Ibrahim). Bukit Tursina (Nabi Musa), Kabuyutan Galunggung (Nabi Nuh), Gunung Tampomas, Gunung Salak, Gunung Gede, Gunung Padang, dan sebagainya.

           Arti ‘Padang’ pada Gunung Padang, bisa dimaknai luas, lapang, berserah diri, atau cahaya yang terang. Bisa juga diartikan tempat berkumpul atau tempat bertemu. Andai dimaknai tempat berlindung mungkin identik dengan arti Padang Masyhar. Arafah, Kabah, dan Islam, serta Nur Illahiah. Galuhna cahyaning ratu. Berkaitan dengan budaya ‘batu’ sebagai tempat pertemuan, ada beberapa jejak-jejak Batu dalam budaya Para Nabi, yakni:
1.  Batu ‘Ja’ tempat bertemunya Nabi Musa dan Nabi Hidir Majma Al Bairayn
( Al Hahfi 18: 60 82) yaitu pertemuan dua laut yang ada tempat batu berlindung (Al Kahfi 63). 1.b. Firman Allah kepada Nabi Musa:’Pergilah Engkau dan lihatlah ‘BATU’ yang ada di puncak gunung itu, duduklah Engkau di atas batu itu! Kemudian aku akan menurunkan balatentaraku ke padamu (HR. Sina Ibnu Abbas Ra).
     2.   Jabal Rahma: tempat bertemunya kembali Nabi Adam dengan Siti Hawa, dan   tempat turunnya wahyu terakhir Nabi Muhammad. Nabi Muhammad SAW tidak menganjurkan naik ke gunung, mengusap/mengambil batu dan tanahnya. Atau Shalat di atasnya tetapi yang dianjurkan adalah mengikuti sunahnya.
     3.  Gunung: a). Bukit Thursina Gn Sinai, kamu sekali-kali tidak akan sanggup melihatku, tetapi lihatlah ke bukit (Bukit Thursina), gunung pun hancur (Al Araf 143) kemudian turunlah Nabi Isa dan para sahabatnya dari Gunung Thuur, setelah berdoa (HR Muslim). Tempat Nabi Musa menerima Wahyu berupa ‘Tabut’, Sepuluh perintah Allah. b) Gunung Uhud berarti Ahad (Al Ikhlas) nama tersebut sebagai pemberian Allah. Tempat Nabi Muhammad menerima Wahyu pertama di Gua Hira.. Uhud adalah salah satu tiang dari tiang-tiang Surga (HR Sahil bin Ssad). Di Sunda ‘Gunung’ sebagai Kabuyutan (tempat suci), seperti: Kabuyutan Galunggung, Gunung Gede, Gunung Salak, Gunung Sawal, Gunung Padang, Gunung Sadahurip, Gunung Tampomas, dan lain-lain.
           Allah berkata kepada Musa: “Aku akan menampakan diri. Bertajaalilah pada Gunung itu (Gn. Sinai). QS Al Araaf 7; 143 Luh Mahfudz; tulisan pada batu (QS Al Hijr 15: 9) Zabur: firman Allah yang ditulis dalam lembaran Batu ad Zabur. Maka semua kitab terdahulu yang ditulis dalam lembaran batu dinamai Zabuur (Za Ba Ra: Batu, Zabur: Kekuatan – QS 21: 105). Zabur diberikan kepada Nabi Daud dan Nabi Sulaiman.
       Maqom Nabi Ibrahim yaitu Batu tempat ia berdiri berbentuk telapak kaki. (HR Said bin Jubair). Jadikanlah sebagian dari Makam Ibrahim itu tempat Shalat (Al Baqarah 125). Menurut Sheikh Moh. Tahir Al Kurdi Nabi Muhammad SAW pun memiliki cetakan bekas kedua belah telapak kakinya. Berdasarkan ukurannya, panjang 22 cm, lebar 11 cm diperkirakan sangat mirip dengan telapak kaki Nabi Ibrahim. Cetakan tersebut sekarang berada di Museum Topkapi Turki. Ada lagi situs telapak kaki yang dipercayai bekas nabi Adam yaitu Gunung Adam Peak di Srilangka tercetak di atas batu safir, tapi ukurannya sangat besar, panjangnya 180 cm. Ada lagi yang mengatakan bahwa Nabi Adam turun di Suatra. Yaitu menurut Syaikh Yusuf Tajul Khalwati, yakni di Negara Hindi di Gunung Serendib dalam bahasa Sansekerta Serendib berarti Swarna dwipa atau Sumatra berupa Pegunungan Bukit Barisan (bagian dari Sundaland), karena ada pendapat juga bahwa yang dimaksud Nabi Adam diturunkan di Negeri Hindi maksudnya adalah Hindia atau India Asia Timur (Indonesia).
            Gunung Serendib juga bisa diartikan Sailon, Ceylon, Srilangka. Makanya jejaknya ada juga di Srilangka. Jejak tekapak kaki di Sumatra ada di Serambi Makah, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh Selatan, yang ukurannya, panjang 95 cm, lebar 40 cm. Lebih dikenal sebagai Tapa Tuan (Tapak Tuan). Jejak kaki raksasa juga ditemukan antara lain di Desa Warnasari Sukabumi. Majene Sulawesi Selatan. Di Desa Kayangan Lombok Utara, dengan ukuran 2x1 meter.  Ada juga di Afrika Selatan di kota Mpaluzi, berukuran 121 cm. Jejak Sunda berukuran raksasa. Sementara yang ukuran dan modelnya persis sama dengan jejak kaki Rasulullah dan Nabi Ibrahim hanya ada di Tatar Sunda (yang artinya cahaya keindahan, baik).
        Untuk jejak kaki raksasa Nabi Adam masih sumir dan diragukan obyektivitasnya.. Lebih mengarah kepada legenda dan manusia raksasa. Sementara telapak kaki jejak nabi yang ada di Tatar Sunda, tidak diragukan lagi obyektivitasnya. Mengapa jejak Nabi yang ada dengan jejak yang ada di Tatar Sunda ‘sama’? Apakah ini sebagai petanda pula bahwa sesungguhnya orang Sunda adalah orang-orang terpilih pewaris jejak nabi, seperti halnya Galunggung Ngadeg Tumenggung (tempatnya ngadeg ‘berdiri’, Para Nabi & para leluhur), Sukapura Ngadaun Ngora (penerusnya Sukapura adalah pewarisnya).
              Para pewaris Nabi lebih dikenal sebagai Ihya Ulumudin (An Noor 24 : 55), Allah menjanjikan orang-orang yang beriman dan beramal shaleh dari kalanganmu, dan menjadikan Khalifah (tumenggung) yang memegang kuasa pemerintahan di bumi. Pewaris Nabi adalah pilihan Allah kepada Ulama-ulama, orang-orang bijak, berpengetahuan berupa ‘Nur’ Muhammad (sebagai cahaya illahiah yang Maha Agung). Ada sebuah doa sebagaimana tersurat, “Ya Alloh aku tempatkan putraku dan anak keturunannya di dekat rumahmu yang dihormati di lembah yang sunyi dari tanaman dan manusia agar mereka mendirikan shalat dan beribadat kepada-Mu, jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rejeki dari buah-buahan. Mudah-mudahan mereka bersyukur (QS Ibrahim 37).



Batu ASH SAHKHRAH
Mesjid, rumah Allah tempat bersujud. Batu tempat berpijak ketika Nabi Isa Miraj dinamai Batu ASH SAHKHRAH. Saat ini, batu tersebut berada di masjid Al Aqsa. Di batu tersebut pernah digunakan Nabi Ibrahim, Nabi Daud, dan Nabi Sulaeman berdoa. Di Mesjid Al Aqsa pun terowongannya masuk dari pintu timur dan barat.
            Bagaimana dengan sejarah dan keberadaan Situs megalitikum Gunung Padang itu sendiri? Secara filologis Gunung Padang berkelindan erat dengan Naskah Puru Sangkara, Carita Ratu Pakuan, Sanghyang Siksakandang Karesian, Carita Waruga Guru, Sanghyang Raga Dewata, Bujangga Manik, juga Kabuyutan Batu Nangtung Pasir  Ringgit Selareuma  Sumedang Larang, yang pada zaman bihari ‘masa silam’ konon dikeramatkan dan disakralkan sebagai tempat menempa  jiwa untuk menyiapkan pemuka-pemuka agama yang handal dan terlatih.
Gunung Padang ditengarai terbagi menjadi lima undak/teras atau lima tingkatan

           Gunung Padang ditengarai terbagi menjadi lima undak/teras atau lima tingkatan, menurut juru kunci di sana, sebagian besar sudut batu-batunya juga kebanyakan bersudut lima. Posisi Gunung Padang itu sendiri  berada  di tengah, serta dikelilingi oleh lima gunung, yakni di sebelah barat Gunung Karuhun, sebelah selatan Gunung Emped, di sebelah tenggara  Gunung Malati, sebelah timur Gunung Pasir Malang, serta sebelah utara/barat laut Gunung Batu. Siloka ‘simbol’ lima undakan tersebut, sesuai dengan Rukun Islam dan kewajiban Shalat.
Orientasi Gunung Padang menghadap ke sebelah tenggara barat laut, yang juga meliputi lima buah gunung, yang terdiri atas: Gunung Batu, Gunung Pasir Pogor, Gunung Kendeng, Gunung Gede, serta Gunung Pangrango. Gunung Padang  berorientasi kepada Gunung Gede, karena Gunung Gede dianggap ‘kiblat’ atau pancer ’pusat’ para leluhur/gegeden ‘pejabat’ pada masa  lampau. Gunung Padang secara geografis segaris lurus mengarah dan tembus ke Gunung  Gede. 
Mengacu kepada pembagian tatanan ruang pada zaman bihari ‘silam’, proses penciptaan alam dalam naskah meliputi buwana (jagat raya), pretiwi (bumi), sarira (diri sendiri), dan para dewa pengatur jagat. Naskah kuna lainnya, Kropak 422 menyebutkan bahwa alam semesta terbagi dalam tiga dunia, yaitu sakala (dunia nyata), niskala (dunia gaib), dan jatiniskala (kemahagaiban sejati). Hal ini pun sejalan dengan apa yang digambarkan naskah Sanghyang Raga Dewata yang menjelaskan penciptaan alam dunia. Naskah ini pun menjelaskan tentang keesaan Tuhan, dengan istilah Sanghyang Tunggal ‘Tuhan Yang Maha Esa/Tuhan Yang Maha Tunggal.

Naskah Sanghyang Siksakandang Karesian


Kesakralan Gunung Padang, diungkap lewat Naskah Sanghyang Siksakandang Karesian, yang memaparkan bahwa kahyangan penghuni para dewa lokapala (pelindung dunia), disesuaikan dengan kedudukan mata angin dengan warna masing-masing yang disebut Sanghiyang Wuku Lima di Bumi, yaitu Isora bertempat di kahyangan timur (Purwa), putih warnanya. Daksina selatan, tempat tinggal Hyang Brahma, merah warnanya. Pasima barat tempat tinggal Hyang Mahadewa, kuning warnanya. Utara yaitu utara tempat tinggal Hyang Wisnu, hitam warnanya. Madya  tengah, tempat Hyang Siwa, aneka macam warnanya.
Sementara itu, Carita Pantun Eyang Resi Handeula Wangi memuat kosmologi Sunda yang membagi dunia ke dalam tiga bagian (triumvirate), yaitu Buana Nyungcung  dunia roh, Buana Panca Tengah  dunia manusia, dan Buana Larang. Mandala hanya dikenal di Buana Nyungcung. Maka dari itu, jika dikaitkan dengan tatanan Gunung Padang yang terdiri atas lima undak/lima tingkatan, mungkin lebih cocok jika dihubungkan dengan pembagian tatanan ruang sebagaimana terungkap dalam Sanghyang Siksa Kandang Karesian,  yang terdiri atas lima arah angin (Sanghiyang  Wuku Lima di Bumi).
       Gunung Padang sebagai gunung yang disakralkan dan dapat dikatakan sebagai kabuyutan, keberadaannya sama dengan Gunung Galunggung, yang dapat diartikan sebagai galuh nur agung, tempat cahaya Illahi Yang Maha Agung. Makanya Galunggung maupun Gunung Padang menjadi kabuyutan yang harus dijaga. Hal itu pun beralasan karena, Galunggung merupakan sebab, yang akan melahirkan dan menjadikan para Tumenggung atau Khalifah sebagai manusia pilihan pewaris para Nabi. Makanya ada amanat khusus, dari Galunggung bagi para generasi Sunda jika ingin menjadi Pewaris Nabi. Sesuai dengan Imam Ghazali: setelah zaman para Sahabat sebagai pewaris Nabi, yang akan menjadi pewaris sebagai pemimpin adalah para ‘tabi in, wali-wali, yang menjadi Guru Mursyid, yang senantiasa mengikuti sunahnya (ikuti Patikrama nu nyusuk di Parit Galunggung).

Prasasti Geger Hanjuang
       Naskah Amanat Galunggung berkelindan dengan Prasasti Geger Hanjuang, karena isinya ada kesesuaian berkenaan dengan pembuatan parit (pertahanan) Rumantak pada masa pemerintahan Batari Hiyang Janapati yang bertahta di Galunggung. Sebutan ‘Batari Hiyang’ digunakan untuk menyebut seseorang yang tinggi martabatnya di bidang keagamaan. Selain seorang wanita luar biasa, seorang Ratu Galunggung yang cerdas dan perkasa, Ia juga seorang ‘batari’ dan panglima perang yang handal, pembuat parit/benteng pertahanan Rumantak. Kebatarian yang dimilikinya berkenaan dengan kedudukannya sebagai guru agama yang digelari Sang Sadu Jati bagi rakyat dan raja-raja keturunannya, sehingga ajarannya dijadikan ajaran resmi pada masanya di Galunggung.
       Benar atau tidaknya pandangan yang disajikan, bergantung kepada persepsi pembaca, dari sudut pandang mana menilainya. Tentu saja pandangan dan pemikiran penulis ini akan berbeda dengan persepsi lainnya. Penulis dan penggagas tulisan ini, yakni Brigjen Pol. Dr. H. Anton Charliyan, MPKN, sebagai pemerhati budaya, berharap agar Gunung Padang sebagai tinggalan budaya karuhun orang Sunda yang maha megah, sepatutnya diraksa, diriksa, tur dimumulé ‘dijaga, dipelihara, dan dilestarikan’, bahkan harus diteliti dan dikaji agar dapat diungkap kearifan lokal yang ada di dalamnya. Tiada lain, menambah cakrawala demi kemajuan ilmu pengetahuan, yang berguna bagi kehidupan manusia se dunia, sebagaimana terungkap dalam naskah-naskah Sunda buhun ‘kuno’  bahwa Raja Sunda ‘jaman bihari ‘masa silam’, harus mampu ngretakeun janma réya, dan ngretakeun alam dunya ‘memerdayakan dan menyejahterakan banyak orang serta alam dunia. Semoga!               



Penulis: 
Brigjen Pol. Dr. H. Anton Charliyan, MPKN
Dr. Elis Suryani NS, Dra., MS.
       Dosen dan Peneliti Fakultas Ilmu Budaya
       Universitas Padjadjaran


       
Acuan:
Atja, R.  & Saleh Danasasmita. 1981. Sanghyang Siksakanda Ng Karesian. (Naskah Sunda Kuno Tahun 1518 Masehi). Bandung: Proyek Pengembangan Permuseuman Jawa Barat.
Charliyan, Anton. 2011. Kujang: Bentuk, Makna, dan Fungsinya dalam Kehidupan Masyarakat Sunda. Bandung: CV. Dananjaya.
Charliyan, Anton. 2013. Master Ledership. Jakarta: Solusi Publishing.
Charliyan, Anton. 2014.  Jejak Budaya Sunda dan Para Nabi. (Wawancara & Diskusi Ekslusif). Bandung, 1-2 Maret 2014).

Suryani NS, Elis. dkk. 2009. Kedudukan Lahan Penambangan Batu Kampung  Selareuma Pasir Reungit Kelurahan Pasanggrahan Kecamatan Sumedang Selatan Kabupaten Sumedang dalam Konstelasi Kabuyutan Sumedanglarang.  Kabuyutan Batu Bangtung Pasir Ringgit Selareuma Sumedang
Suryani NS, Elis.“Gunung Padang Kian Menantgang”. Artikel di Pikiran Rakyat, 2011.
Suryani NS, Elis.“Gunung Padang, Gunung Nu Dipigandrung”. Artikel di Pikiran Rakyat, 2012.
Suryani NS, Elis. 2011. Ragam Pesona Budaya Sunda. Bogor: Ghalia Indonesia.
Suryani NS, Elis.“Kujang: Gagaman dan Pakarang”. Artikel di Pikiran Rakyat, 14 Agustus 2012.
Suryani NS, Elis. 2012. Panorama Sunda Buhun Masa Lampau. Garut: Pasulukan Loka Gandasasmita.
Suryani NS, Elis. 2013. Maher Budaya Sunda. Bandung: Alqaprint.



                    

Tidak ada komentar:

Posting Komentar